Cerita Kakek Lumpuh Hidup Memprihatinkan di Gubuk Bambu Reyot


Cerita Kakek Lumpuh Hidup Memprihatinkan di Gubuk Bambu Reyot

Mbah Slamet menyimpan cerita getir perjalanan cinta dan kisah hidupnya. Di usia senja memasuki 77 tahun, dia harus berpuas diri tinggal dalam gubuk reyot yang dipenuhi tumpukan plastik dan sampah.

Pria tua itu tinggal di Desa Getas RT 1/RW 3, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Hari-harinya dihabiskan dalam gubuk, karenanya tidak bisa bepergian. Dia lumpuh, tidak bisa berjalan, dan hanya bisa merangkak.

Dia hanya seorang diri, dalam sebuah bangunan anyaman bambu yang jauh dari standar layak. Bukan hanya tak layak dari kesehatan tapi juga keamanan karena rawan roboh.

Banyak plastik, karung, yang bergelantugan di atap. Sementara di lantai tak kalah penuh, karena terdapat aneka ragam barang. Botol-botol bekas air mineral tampak berserakan bersama ember dan panci. Di antara tumpukan barang itu, terlihat satu gelas kopi hitam lengkap dengan tutupnya.

Sementara Mbah Slamet, hanya duduk di antara onggokan barang-barang. Pria yang wajahya sudah dipenuhi keriput itu mengenakan sarung lusuh. Di kepalanya terdapat kain sebagai penutup untuk melindungi dari hawa dingin. Terlebih pada musim hujan saat ini.

Salah seorang kerabat, Karis menceritakan, Mbah Slamet sejak muda kerja serabutan. Pria itu pernah ikut kerja seorang pemborong di Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur. Mbah Slamet juga pernah menikah hingga memiliki anak.

Mbah Slamet sempat menikah dan memiliki satu anak. Namun ketika anaknya berusia satu bulan, istrinya kabur dan tidak kembali,” ujar Kasir, Rabu (6/5/2020).

“Anak semata wayangnya itu kini juga sudah meninggal. Sebelum meninggal pernah menikah dan memiliki satu anak (cucu Mbah Slamet). Setelah ayahnya meninggal, cucu Mbah Slamet ini ikut ibunya di Kediri. Sehingga kini Mbah Slamet hanya sendirian di sini,” ungkapnya.

Kondisi Mbah Slamet itu mengetuk hati warga sekitar. Pernah ditawari untuk tinggal di rumah warga, tapi Mbah Slamet menolak. Dia lebih memilih tinggal sendiri di gubuk. Warga pun bergiliran mengirimkan makanan bagi Mbah Slamet.

“Makan kita yang ngasih, kadang tetangga juga. Dulu sempat saya buatkan kamar di rumah saya agar bisa ditempati. Namun Mbah Slamet tidak mau, dan memilih tetap di rumahnya yang kondisinya seperti itu. Saya tidak berani memaksa,” ujarnya.

Ramadhan ini, tampaknya bisa tersenyum lebih lebar. Rombongan orang dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Blora datang untuk melakukan bedah rumah. Mereka membawa material berupa kayu, genting, papan, dan partisi dinding yang terbuat dari asbes. Lengkap dengan tenaga tukangnya.

“Nggih matur nuwun (ya terima kasih) atas bantuan pembangunan rumahnya,” ucap Mbah Slamet singkat.

Ketua BAZNAS Kabupaten Blora, KH Ali Muhdhor mengatakan, bantuan bedah rumah itu senilai Rp12 juta. Bantuan ini merupakan sumbangan dari seluruh ASN se-Kabupaten Blora yang terkumpul di BAZNAS dan dipergunakan untuk kegiatan sosial seperti bedah rumah.

“Kita dirikan rumah yang layak huni di samping rumah lama. Nanti setelah jadi, Mbah Slamet bisa menempati rumah barunya. Sedangkan rumah lamanya bisa dirobohkan agar tidak membahayakan,” ucap KH Ali Muhdhor

LihatTutupKomentar