Terkejut Setelah Mengenal Sosok Penjual Nasi di Depan Kuburan Waktu Subuh


Terkejut Setelah Mengenal Sosok Penjual Nasi di Depan Kuburan Waktu Subuh

Di dalam rezeki kita, ada rezeki orang lain. Begitulah yang diyakini seorang pemuda Malaysia bernama Ahmad Ariff Firdaus Ahmad Taufik ini.

Pemuda yang lebih akrab disapa Ariff ini bercerita saat berbagi rezeki kepada seorang penjual nasi lemak pada pagi Subuh pekan kemarin.

Waktu itu Ariff dalam perjalanan dari rumahnya di Ayer Molek, Melaka, ke tempat kerjanya di sebuah pabrik di Ayer Keroh.

Di hari Jumat pagi itu, dia melihat lapak milik seorang kakek penjual nasi lemak sudah buka. Padahal jam masih sekitar pukul 4.30 pagi.

" Ini pertama kali saya singgah ke lapak nasi lemak kakek itu, sebab selama ini saya sering menggunakan jalan alternatif di Jalan Duyung.

" Sejak November tahun lalu, lebih dari 700 karyawan dibagi dalam dua shift. Pagi mulai jam 6 pagi, dan sore jam 3 untuk shift ke dua," katanya Ariff mengawali kisahnya.

Jadi, hari itu Ariff kebetulan dapat shift pagi, jadi dia mulai berangkat pukul 5 pagi. Dia kemudian memutuskan singgah ke lapak nasi lemak karena lapar.

Ariff mengatakan jalan alternatif ke tempat kerjanya sebenarnya lebih jauh dibandingkan Jalan Ayer Molek yang melewati lapak kakek berusia 60an itu.

Tapi jalan yang melewati lapak kakek tersebut sepi dan sedikit gelap meski sudah pagi. Apalagi dia juga sering bertemu dengan babi hutan yang melintas di jalan.

" Rumah kakek itu juga berhadapan langsung dengan kompleks kuburan yang berdiri di sepanjang jalan kira-kira 700 meter. Jadi, dalam keadaan gelap, lebih baik saya melalui jalan yang lebih nyaman," ujar Ariff yang menetap di Ayer Molek sejak 2017.

Namun, pada hari itu, pemuda 29 tahun asal Bandar Baru Bangi, Selangor ini tergerak hatinya untuk melintas jalan di depan lapak kakek penjual nasi lemak itu.

Bukan hanya itu, pria beranak satu ini juga itu juga ingin bersedekah dengan membeli sejumlah nasi lemak bungkus kepada kakek tersebut.

Dengan uang 50 ringgit (Rp172 ribu) di dompet, Ariff bilang mau beli nasi lemak 30 ringgit dan sedekahkan kepada pembeli lain yang datang.

Ternyata dengan hanya membayar 30 ringgit, Ariff sudah dapat 20 bungkus nasi lemak yang siap untuk disedekahkan.

" Saya juga beli dua bungkus untuk saya makan di tempat kerja. Namun saat saya ulurkan uang, kakek itu serahkan kembalian. Jadi dia hanya ambil 30 ringgit untuk nasi lemak yang saya hendak sedekahkan.

" Saya terharu karena kakek itu balik sedekah ke saya dua bungkus nasi lemak. Padahal niat saya bersedekah, kakek itu malah sedekah ke saya," kata Ariff.

Ariff yang merupakan manajer teknis memuji kemurahan hati lelaki lanjut usia itu di tengah susahnya mencari rezeki selama pembatasan sosial yang disebut Perintah Kawalan Pergerakan (PKP).

" Walaupun PKP, kakek itu tetap berusaha bangun pagi-pagi sekali untuk mencari rezeki. Katanya, nasi lemak istrinya yang masak, di lapak itu dia dibantu anak lelakinya yang juga bersiap ke tempat kerja.

" Kenapa saya bersedekah meski di tangan cuma ada 50 ringgit saja? Sebab saya percaya kalau kita berbagi rezeki dengan orang, insyaAllah rezeki kita akan diperluas.

" Walaupun saya tahu lapak kakek itu dekat kuburan dan jalan yang lebih gelap, ada babi hutan melintas... tapi karena sikap kakek itu yang ramah dan pemurah, serta nasi lemak yang sedap, insyaAllah saya akan datang lebih kerap ke lapaknya setelah ini," pungkasnya.

LihatTutupKomentar