Islam pun Melarangnya, Menitipkan Anak Kepada Orangtua Itu ‘Dosa’..!!


Di era yang serba modern ini, tak dapat disangkal bahwa wanita ikut berkecimpung dalam dunia kerja. Berdasar pada alasan pendidikan yang tinggi membuat wanita merasa harus mengejar karir dan membuktikan kemandirian finansial mereka. Jika wanita tersebut belum menikah dan belum mempunyai anak, mungkin tidak terlalu masalah. Tapi bagaimana jika ia sudah menikah dan mempunyai anak?

Kebanyakan para wanita karir yang juga ibu rumah tangga menitipkan anak mereka pada ibu kandung, ibu mertua atau tetangga. Bagi sebagian besar orang, menitipkan anak pada orang tua sudah menjadi hal yang lumrah. 

Padahal dalam Islam, wanita disarankan untuk lebih banyak berdiam di rumah sambil mendidik anak-anak. Selain karena wanita adalah aurat, wanita juga berkewajiban mendidik anak-anak agar menjadi anak yang soleh dan solehah. Lalu bagaimana fenomena menitipkan anak ini dipandang dari hukum Islam?

Islam memandang  mulia derajat seorang wanita. Seorang wanita telah bersusah payah mengandung anak selama 9 bulan bahkan ketika sang anak lahir, ia pun harus kembali bersusah payah mendidik anaknya karena ia adalah raíyah (pemimpin) dalam masalah kerumahtanggaan. Jika ia berhasil melaksanakan kewajibannya ini, ia akan mendapat balasan pahala yang begitu besar.

Al-ummu madrasah al-ulla, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama sang anak. Anak belajar pertama kali dari ibunya. Sejak di dalam rahim, anak sudah belajar mengenali ibunya. Mulai dari suara hingga sentuhan sang ibu di perut. 

Begitu pula ketika ia lahir, pelukan sang ibu saat menyusui menjadi pelekat hubungan antara ibu dan anak. Sang anak belajar untuk pertama kalinya dalam menyentuh, mengenali, tertawa, sedih dan berbagai hal lainnya dari sang ibu.

Islam memberikan tanggung jawab yang besar tapi sangat mulia kepada seorang wanita. Wanita menjadi penentu masa depan suatu bangsa karena tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anak. Jika ia mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang berguna bagi agama dan negara, maka ia berhasil menghasilkan calon pemimpin masa depan bangsa.

Rasulullah pernah bersabda :

“…pria adalah pemimpin dalam keluarganya, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya…” (H.R. Bukhari Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa kelak seorang wanita akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap anak-anaknya. Tanggung jawabnya tidak akan berpindah begitu saja ke orang lain jika ia menitipkan anaknya pada orang lain.

Islam Memandang Orang Tua yang Menitipkan Anak

LihatTutupKomentar